
di pantai losari

minum es teler sepulang dari pelabuhan

di Pelabuhan Makassar waktu nganter
Ali Sastro (berbaju merah garis2)

foto dulu ah..
sambil nunggu Ali turun dari kapal
"When you really want something to happen, the whole universe conspires so that your wish comes true." [The Alchemist]
Tiga hari yang lalu mama menelpon saya, katanya khawatir dengan keadaan saya. Dia berusaha meyakinkan bahwa saya baik-baik saja. Seperti kenyataannya, saya bilang kalau saya baik-baik saja, saya sehat, alhamdulillah cukup tanpa kekurangan apapun. Lalu saya penasaran untuk tidak bertanya kepadanya, saya bilang “memangnya kenapa ma..?”, ternyata jawabannya cukup membuatku tersenyum dan sedikit berpikir. Mama bilang akhir-akhir ini sudah beberapa kali bermimpi tentang saya, dia juga meminta kepada saya untuk tidak sering melakukan perjalanan apalagi perjalanan jauh seperti biasanya. Mama juga berpesan kalau orang mau wisuda seperti halnya orang ingin menikah (saya pikir agak tidak nyambung). Mamaku selalu yakin dengan perasaannya dan terkadang karena terlalu khawatir sering membuatnya banyak berpikir lalu bermimpi.
Ketika ngobrol dengannya saya harus betul-betul meyakinkannya bahwa itu cuma mimpi, jangan diyakini. Toh kalaupun itu betul, mungkin salah satu bentuk firasat dari Allah. Mama selalu mengingatkan saya untuk tidak putus berdoa dan minta perlindungan-Nya. Saya pun mengiyakan dengan senyum lagi (kali ini lebih lebar,hehe...) karena saya sangat bersyukur, Allah SWT selalu saja dengan caranya memberikan kebahagian tersendiri. Seperti hari ini, Dia memantulkan kasih sayang-Nya dari mamaku yang saya sayangi karena-Nya. Hikmah yang saya ambil setelah cukup berpikir, ternyata mimpi itu membuat saya dan mama semakin dekat terutama semakin mendekatkan kami pada-Nya, meski hampir dua tahun kami tak bertemu.
Tanggal 14 Februari beberapa orang merayakan hari kasih sayang, padahal saya sendiri beranggapan setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detiknya adalah waktu-waktu untuk berkasih sayang. Berkasih sayang dengan siapa pun itu, keluarga, sahabat, teman, tetangga, binatang, juga alam sekitar kita. Berkasih sayang dimana pun itu di dunia nyata juga di dunia maya (maksudnya internet, termasuk di blog,hehe...). Wujud kasih sayang pun beragam, nggak harus memberikan coklat dan bunga tepat tanggal 14 atau mengucapkan ”happy valentine”, terlalu sempit untuk dimaknai. Tersenyum, bertegur sapa, menanyakan kabar, mengucapkan salam, dan mendoakan sesama adalah hal-hal yang dianggap kecil namun sebenarnya berpengaruh besar. Di tengah himpitan hidup yang semakin membuat orang sibuk, hal-hal tersebut seakan-akan sulit untuk dilakukan.
Akhirnya sebagai penutup, ada sabda Rasulullah SAW diriwayatkan Imam Bukhori yang sangat saya sukai ”Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (secara sempurna) sehingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sepenuh kecintaannya akan kebaikan itu untuk dirinya sendiri.”
Selamat berkasih sayang....
(*inspired by my mom, thanks..)
Beberapa orang bertanya kabarku mengenai sesuatu yang bisa dibilang sangat pribadi. Mereka ingin memastikan apakah saya telah mengakhiri sesuatu dengan seseorang.
Saya hanya mau menjawab bahwa saya merasa tak pernah mengakhiri sesuatu dengan siapa pun itu, saya terlalu menghargai permulaan(awal) dari sesuatu. Jadi tak ada prinsip untuk mengakhiri dalam hidup saya. Mungkin dapat diwajarkan pertanyaan tersebut, karena dianggap sesuatu yang diawali pada akhirnya harus diakhiri, bahkan terkesan harus dipaksakan harus berakhir. Entah kalau pandangan orang yang mau mengakhiri sesuatu.
Padahal menurut saya sendiri, yang membuat sesuatu itu terlihat diakhiri adalah perasaan tentang kondisi yang tak sama seperti hal semula, salah satunya perasaan kehilangan. Seperti halnya hidup yang tak selalu bahagia, dan berakhir karena kematian atas ketentuan-Nya, bukan keinginan kita yang mengakhiri hidup.
Dan ada banyak alasan dibalik kondisi ketidaksamaan itu.
Jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan..
Apalagi salah menafsirkan puisi-puisi saya
Maaf..saya bukanlah orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Sebab saya yakin, bagian terbesar dari hidup itu adalah perjuangan dan saya yakin tak ada kesia-siaan pada setiap kejadian.
Saya jadi ingat jingle sebuah iklan
”nggak seemuuaaa yang lo lihat itu bener’,
”nggak seemuuaaa yang lo denger itu bener”
Terima kasih atas pertanyaan yang mengundang senyum dan membuat saya menulis ini.
**lagi sok bijak kali ya?
Untuk kita renungkan
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam, sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
Oh.. singkirkan debu yang masih melekat
Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia diatas segalanya
Oh..adalah Dia diatas segalanya
Anak menjerit-jerit
Asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista
Oh..
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepada-Nya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari hanya tunduk sujud pada-Nya
Kita mesti berjuang, Memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada disini didalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum
Oh..berusahalah agar Dia tersenyum
Saya lagi suka mendengarkan lagu ini (berulang-ulang, sampe tetangga kamar bosan,hehe..), lagu Ebiet G. Ade ini seperti judulnya, mencoba mengajak kita sejenak untuk merenungkan kondisi negeri kita yang tak henti ditimpa bencana. Dalam kesempatan menulis bertemakan cinta ini, saya bukan berusaha mengingatkan kembali tentang nasionalisme. Tulisan ini sekedar bentuk kepedulian yang sangat kecil pada banyak kejadian yang melanda di sekitar kita. Bukankah dapat dikatakan masih ada cinta di hati dengan adanya sikap peduli? (entah jika ada pandangan lain). Tapi kepedulian kita bukan sekedar dalam tulisan, bukan?


mimpi itu menyergapku
ada engkau, ada aku
tapi mengapa aku menangis
dan ketika bangun aku meringis
akupun bergumam,
tolong jangan Kau ambil dia yang akan kujadikan imam
Puisi ke tujuh puluh
Bercerita tentangmu
Yang masih saja tak jemu
Hinggap di pikiran dan hatiku
Pada-Mu kutitip cinta
Untuk seorang dia
Pada-Mu jua kukirim rindu
Untuk dia yang mencintaiku
Tak lupa juga doa
Dalam degup sepenuh jiwa
Di sujud sepertiga malam
Aku berteman dengan kalam
Cukup pada-Mu kuserahkan ingatanku
Begitu sangat menenangkan kalbu
Membuat bangsaku hampir mati
Dari mahasiswa hingga petinggi kampus
Dari pegawai swasta hingga pegawai negeri
Laki-laki juga wanita
Yang tua maupun yang muda
Satu hari untuk anti korupsi
Tak cukup bagi yang ongkang-ongkang kaki
Sekedar menikmati slogan anti
Tapi dibiarkan jalan-jalan ke luar negeri
Koalisi Penikmat Korupsi
Karenamu rakyat masih hidup tak pasti
Bangkitlah Indonesia!
Hentikan korupsi sejak dini!
Lihat, Lawan, Laporkan
(peringatan hari antikorupsi se-dunia)