Showing posts with label poems. Show all posts
Showing posts with label poems. Show all posts

13 October, 2008

a!

kutemukan tak terduga dalam sunyi
ketika hujan hanya dapat kunikmati sendiri

05 September, 2008

Frost said, I said

Frost said in his poem:

two roads diverged in a wood,
and I - I took the one less traveled by,
and that has made all difference.

and I made it into:

two roads diverged in a wood,
and I - I took the one less traveled by,
I took it with you
and that has made all perfect.

22 May, 2008

Sebuah Jaket Berlumur Darah



Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun-tahun


Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan berlapis senjata dan sangkur baja


Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan “Selamat tinggal perjuangan”

Berikrar setia pada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?


Spanduk kumal itu, ya spanduk kumal itu

Kami semua telah menatapmu

Dan diatas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang


Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

Teriakan-teriakan di atap bis kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN!


(Sebuah Jaket Berlumur Darah, Taufiq Ismail, 1966)

15 February, 2008

percakapan kecil

aku: "aku ingin menulis puisi"

kau: "tulislah!"

aku: "tapi aku enggan membacakannya"

kau: "baca saja, meski perlahan"

lalu kau bertanya: "kau persembahkan untuk siapa?"

kujawab dengan mata berbinar: "untuk Engkau yang setia menyisipkan bahagia di hati setiap makhluk"

Aritmatika usia

Apa yang merisaukanmu ketika matahari gelagapan
Dan rintik setia sejak pertengahan februari

Gerimis mengais tangis di pojok halte bis
Sedang pada persimpangan malam neon-neon muram

Lagi aku membayangkan kau sendirian, di tengah perenungan
Di lain benua yang tak pernah kau datangi, beribu-ribu mil spasi

Sekedar mengingat usiamu menjelang dua puluh tujuh
Sedangkan jumlah angka kelahiranmu enam
Seperti bulan kelahiran si gadis pencinta hujan

Dua dan tujuh jika dijumlahkan sembilan
Katanya itu angka keberuntungan

Satu genap, satu gasal
Semoga saja Dia melipatgandakan rahmat-Nya dengan setia

27 January, 2008

sirami aku hujan!

"kering sekali disini"

"dedaunan menyentuh tanah, angin menghela lelah, buah tak jadi ranum"

"sirami aku hujan!"

30 December, 2007

puisi Cak Nun

19
Tuhanku,
aku berguru kepadaMu
ajarilah bagaimana mendengarkan batu
membaca suara
menggenggam angin yang bisu

Tuhanku,
kedunguan memberiku pengertian
buta mata menganugerahi penglihatan
kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan


jika aku tahu
terasa betapa tak tahu
waktu melihat
betapa penuh rahasia gelap
yang dikandung cahaya

Tuhanku, aku berguru kepadaMu
tak tidur di kereta waktu
lebur dalam ruang
karena setiap satu mengandung seribu
berguru kepadaMu

Tuhanku,
kuragukan setiap yang kutemu
kutimba ilmu dari yang paling dungu

20
Tuhanku,
aku berguru kepadaMu
gelap dan terang saling menegaskan
garis batasnya memusnahkan jaraknya
pada pertentangannya memancarkan kesatuannya

[puisi Cak Nun, yg dicomot dr majalah Horison edisi Desember 2007]

Kupersembahkan untuk mereka yang dalam perjalanannya mencari, tanpa harus menyakiti yang lain, tanpa harus menganggap diri yang paling benar, tanpa harus menegasikan apapun, sebab masih ada cara yang lebih baik untuk saling mengerti dan memahami.
berdialog lah, meski dengan dirimu sendiri.

31 October, 2007

books conversation [dialog aku-buku]

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
pic from www.photobucket.com


Damn all the good books,
They call out my name,
I reach out to read them all,
Falling flat on my face with shame,
The timeless classics Don Quixote would say,
The newfound glories, Clancy and James Frey,
The poets like Poe and Dickinson
Ms. Emily I feel your pain
But I haven't the time To read every non-rhyme
and clear the shelves of Humor,
Mystery, History, Architecture
and all the good books call out my name
"Bend my sheath." "Break my spine."
"Get familiar with me."
I haven't the time.
Damn all the good books!

this poem i take from goodreads
wrote by Gabe from Colorado,
it remind me how all my books
where still i put on the box
hasn't finish yet read by me.
when i come home after get
hectic from office 'n trap in a traffic of Jakarta,
i just can see them wrapped on boxes in my room.
just take it for a second saw them crying and said
"why you don't ever read me for a while?"
or
"touch me and see, you'll get anything where
you never get it before"
or
"soeltra, i think you like exploring anytime
anywhere, so why don't you read me?
come..'n being my friend again.
i miss some of conversation with you"

and remember my old poem i ever wrote:

buku buku di kamarku menjerit
setelah sebelumnya selalu menyapa
dengan senyum dan tawa di sampulnya
tapi aku selalu saja lupa

ya..aku selalu saja lupa
bahwa mereka adalah penyempurna jiwa,
juga pengobat rasa

lalu kusampaikan pembenaran kepada mereka
bacaan yang paling penting adalah bacaan hidup
buku yang paling berharga adalah hidup itu sendiri

dan mereka menjawab
dan kau menemui hidup hidup yang lain pada kami
bukan hanya hidupmu
hidup yang lebih lengkap
yang mungkin tak pernah kau alami
atau kau dapatkan dimana pun

buku buku menutup percakapan dengan kalimat
"maukah kau tetap menjadi temanku?"

and finally!
last monday i move to a place nearby office,
rent a room 'n pick up some of my books.
on my new place i just spend 20 minutes on the way
to go to the office 'n no traffic!
the result: for this two days
i've been chatting with two of them.
how grateful my life, how lucky me!
time for waiting traffic for almost 4 hours,
i can substitute it for reading
on my new room...my new room,
small but i just like in heaven.



01 October, 2007

k.a.m.u

kamu :

satu!
seperti anak merajuk sewaktu tak dihiraukan ibu

dua!
seperti perempuan menunduk sewaktu didera malu

tiga!
seperti seorang tua membungkuk ditelan waktu

terakhir...!
seperti buku yang kubaca sebagai penyempurna jiwa

perempuan - lelaki, menulis

perempuan menulis dengan cinta,
ditemani air mata yang kian lama mengiring

lelaki menulis dengan logika,
diiringi peluh yang kian lama mengering

perempuan, lelaki, cinta, logika, air mata dan peluh mengerut tanpa keluh,
di hadapan-NYA semua bersimpuh

bertemu kenangan

pelan-pelan aku meratakan jalanan yang digenangi kenangan
tetap mengendap dalam ingatan meski tak lagi menyakitkan

sesekali berjumpa dalam senyuman

ada yang pernah katakan,
berkariblah dengan kenangan, dan kau tak kan mungkin merasa kehilangan atau kesepian
sebab dia mengada, pada jiwa yang dipenuhi cinta

28 Sept 2007
di angkot menjelang buka

28 September, 2007

menikam diam

Diam-diam dia menikam atas nama rindu

Dari ujung bahu hingga menembus kalbu

Seperti kepala yang kau sandarkan

Pada dermaga yang sempat hancur oleh sebuah kapal

Lalu kau bangun kembali, dengan bentuk mungil dan lebih rapih

Seperti diriku


Mungkin memang kita selaiknya diam-diam saling menikam

Dengan sesuatu yang sederhana tak bernama namun terasa sempurna

Tapi aku selalu saja ingin mendefinisikannya

21 September, 2007

berbuka puisi

aku ingin berbuka puisi
ditemani lantunan orang-orang mengaji
dari kitab suci yang bermakna tinggi

juga denganmu, inspirasi..

untukmu: anonim

kau dan aku berbalas puisi
ketika lekuk-lekuk tubuh terlelap

kau dan aku berbagi mimpi
pada sujud-sujud yang sunyi

kau dan aku bersahutan menyulam takdir
lewat kata-kata yang diucapkan menanti Dia hadir
menjawab tangis kedua manusia yang mengais
menemukan belahannya selepas perpisahan di syurga dahulu

kelak terkabul
bukan lewat gombalan ataupun pesan

ps : aku tahu kau selalu menyembunyikan itu, demi kebaikanku. thanks! /(^_^)\

15 September, 2007

katarsis

duhai Sang Maha Menghendaki
kemarin aku melihat banyak jejak kaki
tubuh-tubuh tertindih puing terkapar mati
di bulan-Mu yang suci

apalagi ini?

(gumamku..)

"qadarullah wa maasyaa a fa'ala"

smoga musibah memang benar-benar selalu menyimpan hikmah dan barokah

07 September, 2007

salam terindah


tadi malam kau menitipkan salam
bukan kelam, hanya sejurus sapaan salam

seperti ingin mengingatkan perempuan hujan
"apakah engkau masih merindukan lautan?"

lalu aku mengangguk,

meski hanya dalam mimpi
sungguh.. indah sekali


(menyimpan rindu itu rasanya indah)

p.s : foto pribadi dijepret waktu di pinggir Losari, Mksr

22 August, 2007

perempuan yang merindukan laut



tiba-tiba aku merindukan laut
merindukan senja yang pernah kau antarkan untukku juga orang-orang di sekelilingmu
merindukan saat-saat berbicara apapun tentang hidup dalam gelap hingga terlelap
merindukan seorang kawan yang pernah menyediakan pangkuan dan bahunya sewaktuku jatuh
merindukanmu yang memancing senyum dan rona merah wajah ini, seperti senja terindah yang muncul di kotamu

di kotaku tak ada laut
kalaupun ada, hanyalah kamuflase atau mungkin manipulatif
atau mungkin juga karena ku tak menemukanmu meski dalam imaji

ya...tiba-tiba aku ingin ke laut
membuka dan menemukan kembali pusaran waktu,
tentang dirimu yang mungkin tlah menjadi kenangan,
bukan lagi kenyataan namun masih lekat dalam ingatan

atau kembali dari titik nadir,
saat kita tak saling mengenal dan dipertemukan Dia secara tak sengaja

mengapa sebelum engkau kembali mengarungi samudera tak sempat berucap?
sedangkan aku masih enggan mengambil teman seperjalanan menuju-Nya
jika bukan engkau

tertanda

blueveil

(di suatu subuh)

hujan datang

beberapa hari ini dia datang, menyapaku dengan enggan
berhari-hari kusimpan dan kutahan, akhirnya berkesudahan
terang-terangan membelai pipi, mendulang senyum
harumnya menyemai kasih dalam hati
mengecup kulit menembus sunyi
dingin, halus, lembut dan penuh inspirasi

terimakasihku untuk si Penyayang..
menghadirkanmu sayang..

13 August, 2007

..........


aku lelah memupuk sesuatu yang dikatakan rindu
sebab itu semakin membuatku mendekati hatimu
sebab itu semakin membuat tak menentu hatiku
sebab waktu selalu membuat manusia menunggu
sebab aku takut mengemis kasih selain kepada-Nya

entah mengapa dirimu membuatku melagu dan larut dalam dekapan hangat cinta-Nya

ajari aku untuk memendam sesuatu yang dinamakan "rasa",
ajari aku untuk biasa aja
ajarika jg bikin puisi bgs. hikzz.. :,(


(edd.. mo dibilang apa ini tulisan, puisi bukan ya?)
send for sum1 (wrote on sunday, 11 pm)

02 July, 2007

ketika lampu berwarna merah

ketika lampu berwarna merah..

penumpang bis kota berkeluh kesah,
pengguna mobil mewah menahan amarah

semua sama, kecuali pejabat negara
dengan tameng tentara lewat tanpa kentara

ada juga yang tertawa renyah,
ada yang resah

ketika lampu berwarna merah..

anak-anak jalanan menengadahkan tangan,
pengamen mendendangkan nyanyian,
pengemis mengais belas kasihan

(di busway, dalam perjalanan ke Menteng)