"When you really want something to happen, the whole universe conspires so that your wish comes true." [The Alchemist]
24 November, 2011
restart
kecuali berlomba lari untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak halaman rumah-Mu
-Cak Nun-
15 September, 2008
......
Itulah kodrat wanita. Cinta lebih dari sekedar ambisi bagi pria.
Cahayanya,
Hidupnya,
Nafasnya,
Tanpa pilihan selain kematian
(jelang tidur: 1 message received)
Cinta antara jiwa dalam hadist Rasulullah:
“Jiwa-jiwa itu bagaikan tentara-tentara berbaris rapi; Jika saling mengetahui (mempercayai) mereka akan bersatu, dan jika saling mengingkari, mereka akan berpisah.”
(HR. Bukhari)
13 June, 2008
monolo[gue]
I try to trust myself, but there's so many consideration to take it. should i? i know each of the risks that i'll take, and it's properly happen for the person who want to learn.
Making choices about your life based on what you think other people want you to do is not only unhealthy, it's unwise.
Unhealthy i agree. Unwise??? it's hard to take into account bout wise or not, because what you think and done will involve people you love.
No one knows what is best for you better than you "yourself", so stop listening to the know it alls who just love to hear themselves talk.
Is it? Sometimes God give you sign to rethink again for what you'll do. And sometimes God give the way that you don't fully like, not to hurt you. Trust it!
Independent thinking is not only healthy, it is wise!
Is it???Healthy not to hurt yourself, but could it call wise if hurt some people?
21 May, 2008
Prinsip, keras kepala dan ke-GILA-an
Kalimat dari Eleven Minutes karya Paulo Coelho sepertinya menjadi tepat dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Saya yakin setiap orang hampir selalu mengalami konflik batin ketika harus mengambil tiap keputusan dalam hidup, bahkan keputusan sekecil apapun. Sedari lahir selalu ada pilihan-pilihan dan semuanya akan berujung pada jalan hidup. Adalah selalu menjadi hal yang rumit ketika sudah mengambil keputusan tiba-tiba muncul hal-hal yang boleh dikatakan mengusik hati dan pemikiran. Biasanya hanya akan ada dua kemungkinan ketika ada dalam kondisi itu, pertama "apakah konsistensi saya sedang diuji?sehingga untuk lebih mempertebal keyakinan atas keputusan yang sudah saya ambil atau memperjelas komitmen dalam diri", kedua "apakah ini pertanda agar saya mempertimbangkan keputusan sebelumnya?, karena ada hal-hal lain yang belum saya pikirkan dengan matang dan akan berdampak ke depan maka Tuhan memberikan alternatif dengan cara-Nya".
Cukup pusing dan bingung memikirkan mana yang menjadi dasar, apakah yang pertama atau kedua. Seperti menebak-nebak suratan Tuhan, meski yang kedua bisa jadi mulai masuk ke ranah fatalis atau oportunis. Kebetulan saya orang yang kurang setuju dengan sikap fatalis, alhasil suka mencari-cari dengan menghubung-hubungkan tiap-tiap kejadian untuk menyusun kesimpulan, bertanya dengan beberapa orang (yang mungkin saja bisa membuat orang yang ditanya itu bingung, hehehe...), buntut-buntutnya melamun.
Katanya wajar jika dalam proses mengejawantahkan keputusan tersebut banyak pro dan kontra, ada yang mendukung ada yang kurang sepakat bahkan tidak setuju dan tidak mendukung. Mau tidak mau tetap saja harus bersikap, asal jangan plin plan dan bersembunyi dibalik alasan ketidakpastian atau kepastian.
Minggu lalu saya mengajukan pertanyaan kepada orang yang saya pikir mungkin bisa jadi membantu menemukan jawaban yang saya cari:
"Mau tanya tentang konsistensi, prinsip, ujian, kemungkinan dan pengambilan keputusan. Masalahnya konflik batin dan pemikiran dari setiap keputusan yang diambil manusia, karena setelah sebuah keputusan diambil, bersamaan akan muncul kemungkinan-kemungkinan. Entah itu studi , pekerjaan, dsb (klo mnurutku smuanya trkait dan akan mnentukan jln hidup). Analisis SWOT blm bs menjawab, apa ini konsep ujian-Nya atau cara-Nya untuk memberikan pertanda atas keputusan awal atau bagaimana?Dipikir-pikir selalu berulang, cuma peristiwa dan waktu yang membedakan."
jawaban-jawaban berbeda saya terima:
pertama, "selalu keputusan itu jatuhnya ke diri manusia itu sendiri. di satu sisi jalan menuju kemuliaan, membantu mencaerdaskan orang lain amal jariahnya tak putus. di sisi lain tawaran itu adalah big money dimana kamu juga berkewajiban membantu keluarga juga kan? ;) "
(hikzz...kalo sudah bicara keluarga tambah berat)
kedua, "gitu ya?(diam..), emang sekarang masalahnya apa?coba lo ceritain, mengingat kan kalo tahu masalahnya gue bisa lebih fokus". Lalu saya ceritakan, dan sudah saya duga jawaban yang akan muncul "bagus itu, kenapa nggak lo coba aja?kan lebih pasti, gini deh..lo pikir-pikir lagi rencana dari keputusan awal lo. Gue juga sebenernya lagi mikir gue juga fokusnya bakal kemana, gue jadi bingung nih sul."
(ya ampuuuunn...akhirnya sama-sama bingung deh!)
ketiga, "jujur saja sebenarnya kadang-kadang saya ada kendala dengan hal tsb.Kalau prinsip mnurutku ada yang harus kaku dan memang harus seperti itu, hal yang berkaitan dengan din misalnya. Tentu saja prinsip itu ada juga yang mesti disesuaikan dengan kondisi. Konsistensi kadang-kadang susah juga menjaganya. Kalo orang hidup pasti ada cobaannya, kita diuji sesuai kemampuan kita dan pasti ada hikmahnya, sebenarnya sandaran paling baik adalah din. Tentu dengan pemahaman yang benar. Keputusan butuh masukan dari keluarga juga, jangan ambil keputusan secara emosional."
(hampir dua tahun lalu saya memikirkan dan membuat rencana)
keempat, "hidayah itu adalah konsistensi, disiplin. begitu menurut yang saya pahami. orang baik dan besar menurut sejarah adalah orang yang teguh pada prinsip tapi tidak fatalis pada nasib."
(dibaca berulang-ulang, dalem euy!)
Sampai sekarang masih mencari-cari lagi. Ahh!!! apa saya terlalu berputar-putar pada wilayah definisi bukan substansi?
Syukurlah mama cuma berkomentar (tentu saja raut wajahnya menandakan masih kurang sepakat) dengan rencana yang mau saya jalani ini dengan kalimat:
"apa nggak dipikir-pikir dulu?yang wajar-wajar saja nak...coba kali ini jangan keras kepala"
Saya pun cuma bisa tersenyum.
28 February, 2008
UNHASku sayang, UNHASku malang
Kita selalu mendengar jargon atmosfer akademik yang dielu-elukan oleh sebuah entitas pendidikan tak terkecuali di Unhas. Secara epistimologis atmosfer akademik terdiri atas dua suku kata, atmosphere yang berarti kondisi global lingkungan , dan academic berarti pendidikan atau proses belajar mengajar. Secara keseluruhan penekanan jargon ini adalah pada kondisi ideal seperti bagaimana yang dimaksudkan. Pengertian akademik itu sendiri jika dilihat dari latar belakang terminologis adalah sebuah keadaan dimana orang-orang bisa menyampaikan dan menerima gagasan, pemikiran, dan atau ilmu pengetahuan sekaligus melakukan pengujian terhadapnya secara jujur, terbuka, dan leluasa.
Selanjutnya jika atmosfer akademik tumbuh maka kemudian akan berkembang menjadi kultur akademik, hal ini ditandai dengan tumbuhnya minat baca yang tinggi, tradisi berdiskusi dan berbeda pendapat, kreativitas menulis, serta proses belajar mengajar yang kondusif. Namun jika kita lihat, sampai hari ini realitas di lingkungan Unhas berkata lain. Setiap civitas academia di lingkungan Unhas sibuk dengan kegiatannya masing-masing, masih jarang terlihat forum-forum diskusi bahkan dalam lembaga mahasiswa itu sendiri yang notabene seharusnya menjadi wadah dan mediasi terbentuknya kultur akademik, berangkat dari pengalaman jika pun ada kurang diminati. Di fakultas ekonomi tempat saya menjalani kuliah, jarang terlihat mahasiswa membaca. Hal ini cukup menunjukkan bahwa minat baca di kalangan mahasiswa dan tak jarang juga dosen masih sangat kurang (meski hanya berdasarkan pengamatan yang terbatas). Kita lebih sering melihat mahasiswa bermain domino di beberapa sudut fakultas. Belum lagi minat dan budaya menulis yang rendah di kalangan dosen dan mahasiswa, jika kita mau bertanya sudah berapa guru besar, doctor, dan magister yang menghasilkan pemikiran mereka dalam dunia tulis menulis (termasuk saya, hehehe...). Jawabannya masih terhitung jari, dan selebihnya hanya orang-orang yang bergerak pada tataran praktis. Memang hal ini menjadi sebuah ironi bagi Unhas yang begitu renta seiring usia, namun masih kurang bijak untuk lebih maju.
Berbicara mengenai proses belajar mengajar, masih ada persepsi yang salah yang selama ini terbentuk dari sistem pendidikan dan ini masih tertanam di lingkungan Unhas. Mahasiswa cenderung dijadikan objek dan dosen itu sendiri adalah subjek, dengan kata lain selalu ada anggapan bahwa dosen yang lebih tahu dan mahasiswa yang tidak tahu apa-apa, hal ini sangat menghambat terbentuknya kesadaran kritis pada diri mahasiswa. Analoginya bahwa mahasiswa seperti halnya botol kosong yang harus diisi. Padahal dalam tataran ideal, sepatutnyalah hubungan dosen dan mahasiswa adalah hubungan akademik dan hal ini ditandai terjadinya proses dialogis dalam belajar mengajar. Sekali lagi realitas di Unhas jauh dari sisi idealnya sebuah pendidikan, masih banyak dosen Unhas yang lebih mengedepankan tendensi emosional pribadi dan menyajikan proses transformasi ilmu pengetahuan secara monolog dictatorial.
Sebagai salah satu Universitas yang menjadi center di Indonesia Timur, Unhas banyak menghadapi berbagai masalah. Sebut saja birokrasi fakultas yang tak jarang menghambat civitas academia dalam berkreasi, manajemen administrasi pengelolaan fakultas yang masih terkesan lamban dan amburadul, masih adanya beberapa materi kuliah yang tidak lagi kompeten karena masih menggunakan literatur-literatur usang, kualitas SDM yang masih belum memadai baik itu dosen maupun pegawai fakultas, sistem rekruitmen dosen yang tak jelas apakah benar-benar memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan pengajaran, kurangnya koordinasi antar elemen yang ada di Unhas untuk menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi kemajuan masing-masing fakultas, kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang proses belajar mengajar ( seperti : perpustakaan, laboratorium, Mushalla, WC, dan kamar mandi), dan yang tak kalah mengherankan adalah sebagian besar lulusan Unhas yang masih belum mampu berkompetensi di dunia profesional.
Semua hal itu sudah selayaknya diatasi, karena hal itu mencakup berbagai aspek dan elemen yang tentu saja mempengaruhi bahkan menghambat tumbuhnya atmosfer akademik. Jika dibiarkan , Unhas akan terus hanya merangkak untuk lebih maju dan menciptakan kultur akademik yang diidam-idamkan oleh semua entitas pendidikan di Indonesia.
Ditengah derasnya arus globalisasi, Unhas mau tidak mau harus siap untuk berkompetisi dalam meningkatkan mutu pendidikan yang bertujuan menjadikan insan-insan yang didalamnya bukan sekedar robot-robot yang siap pakai, namun menjadikannya manusia seutuhnya melalui proses belajar. Ya! Menjadi manusia pembelajar. Melahirkan kaum intelektual seperti yang didefinisikan oleh pakar pendidikan J.Drost, yaitu orang yang berkat pendidikan dan pengalamannya ia mampu menerima pengalaman hidup, ia bebas bergaul kepada siapa saja namun tetap memiliki etika moral, menghormati orang yang mempunyai kedudukan tinggi tapi tak kalah hormat dengan orang yang berkedudukan rendah. Tidak fanatik dengan sesuatu apapun, tidak mengejar pengukuhan diri, tidak punya dendam kepada siapapun dan berani mengakui kesalahannya bila dia memang keliru.
Adapun sebagai solusi awal atas pemecahan segala permasalahan yang ada dapat berupa : perbaikan sistem pendidikan yang tidak lagi menerapkan sistem monolog dictatorial namun lebih mengedepankan sistem dialogis. Selanjutnya membangun iklim keterbukaan antar elemen di lingkungan Unhas, hal ini terkait dengan transparansi kebijakan untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan yang aspiratif dan sesuai dengan kebutuhan kolektif. Yang juga tak kalah penting adalah menumbuhkan atmosfer akademik yang menunjang, seperti : pengadaan beragam jenis buku di perpustakaan serta fasilitas perpustakaan yang lengkap dan nyaman, pengadaan laboratorium komputer yang memadai dan mudah untuk diakses beserta rutinnya pengadaan pelatihan-pelatihan komputer didalamnya baik untuk mahasiswa maupun para pegawai Unhas. Untuk peningkatan kualitas dan kinerja pegawai selain sistem rekruitmen yang diperbaiki, pihak kampus tak cukup hanya menyediakan sarana dan prasarana saja, yang tak kalah penting adalah memberikan mereka pelatihan ataupun kursus-kursus yang bermanfaat bagi peningkatan kinerja administratif. Hal ini bisa dalam bentuk : pelatihan dan kursus komputer, pelatihan administrasi perkantoran, pelatihan dan kursus bahasa Inggris, dan sebagainya. Jadi, pegawai juga mempunyai hak untuk maju seperti halnya elemen-elemen lain yang ada di Unhas, sehingga semuanya dapat berjalan dengan sinergis. Sedangkan untuk mengatasi masalah rendahnya kualitas dosen, ada baiknya sistem rekruitmen dosen diperbaiki agar orang-orang yang terpilih lebih memilki kompetensi sesuai kebutuhan pengajaran. Hal ini bisa dilakukan penambahan seleksi dalam bentuk tes micro teaching agar dapat dilihat kemampuannya dalam mentransformasi ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya. Selain itu para dosen juga diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, penelitian, tugas belajar dan mendapatkan rekomendasi beasiswa bagi yang berprestasi. Tentu saja hal ini sepatunya tidak membuat para dosen mengesampingkan tugas pokok dan tanggung jawabnya yaitu mengajar. Lalu mewajibkan mereka untuk memberikan sumbangsih pemikiran dalam bentuk tulisan. Agar lebih efektif, sebaiknya pihak kampus menetapkan aturan yang tegas bagi dosen yang tidak disiplin dan mengabaikan tanggung jawabnya dalam kegiatan belajar mengajar, jadi aturan tidak hanya diberikan kepada mahasiswa. Tentu saja hal ini semata-mata untuk menunjang sinergitas dalam proses belajar mengajar agar terciptanya atmosfer akademik yang lebih baik.
Kemudian , satu hal yang selama ini menjadi pertanyaan di kalangan civitas academia Unhas adalah transparansi proses akuntabilitas dan audit kinerja fakultas maupun kampus. Selama ini tidak ada kejelasan dari pihak akademik mengenai anggaran dan alokasi dana, padahal sebagai bagian dari elemen fakultas (stakeholder), mahasiswa bisa saja meminta kejelasan dana yang dipergunakan mengingat kampus besar karena uang publik. Seperti alokasi dana SPP, dana KKN Profesi, dana BSS, dana wisuda, dan sebagainya. Sebagai kampus yang menjunjung good governance dan telah diterapkannya otonomi fakultas (hampir juga otonomi kampus) untuk mengelola dan menentukan kebijakan sendiri hal ini sepatutnya bukanlah menjadi masalah kan?.
Terakhir yang tak kalah penting, untuk meningkatkan kompetensi lulusan Unhas di kancah profesi sebaiknya pihak kampus lebih memperkuat jaringan antar alumni. Terkait dengan rekomendasi pihak Unhas atas lulusan-lulusan yang kompeten kepada para alumni yang telah menempati posisi strategis di beberapa perusahaan. Kebijakan ini telah dilakukan di Universitas Indonesia, dengan mengandalkan jaringan yang kuat dan memadai lulusan mereka dapat bersaing. Tentunya pihak fakultas hanya memeberikan rekomendasi, selebihnya lulusan-lulusan tersebut yang harus melalui proses kualifikasi yang ditentukan oleh perusahaan atau institusi-institusi lain.
Mudah-mudahan seiring bertambahnya usia, Unhas lebih mau dan mampu memperbaiki diri. Bisa jadi hal-hal inilah yang menjadi akar permasalahan tawuran di Unhas yang seolah-olah telah menjadi tradisi. Jangan hanya menyerah pada keadaan dan menyalahkan sistem pendidikan yang selama ini terbentuk, yang paling penting adalah semua elemen sama-sama aktif membangun kembali komunikasi dan sistem belajar mengajar yang kondusif untuk kemajuan bersama. Ini memang tidak mudah, tapi bukankah tidak ada sesuatu yang mustahil jika ada kemauan dan kemampuan?
Ah! tak tahu lah! saya semakin sok tahu saja.
salam,
*Penulis adalah alumni Fakultas Ekonomi-Unhas, setelah kecewa untuk kesekian kalinya menyaksikan tawuran di Unhas. Pernah hampir jadi korban sewaktu tawuran di pertengahan tahun 2002. Penting nggak seh???
RUSUH!!! tawuran lagi!
Miris, melihat berita yang ditayangkan. Mengenaskan, khawatir dengan kondisi teman-teman dan junior-junior di fakultas. Sebab esoknya pasca kejadian Baruga, ada serangan tiba-tiba. Adik junior saya yang kala itu sedang mengikuti kuliah bercerita. Kami berdialog via YM dan dia menjelaskan kejadiannya seperti ini:
rumahmatahari: kak dengarji kabar tawuran kemarin?
bluishy_gal: he'eh
bluishy_gal: trus dikomen org ktrjd bahan pembicaraan 'n sy kya org konferensi pers
rumahmatahari: hehehhee
rumahmatahari: kecipratanki ini ceritanya
bluishy_gal:
rumahmatahari: nd terlalu kutau juga kak
rumahmatahari: katanya mulai inagurasi
rumahmatahari: hari jumat kemrin
rumahmatahari: inagurasi ekonomi kak'
rumahmatahari: biasamilah teknik.... agak resek, katanya teriak2 truzki
rumahmatahari: adaa yg bilang krn konsumsi, ada yg bilang krn persembahan yg jelek.
rumahmatahari: itumalam kak rival emosi skali bede....
rumahmatahari: iyye
rumahmatahari: ada polisi itu malam bede ka
rumahmatahari: malah fuad 04 nginap dikantor polisi, jadi saksi. fajar masuk UGD... palanya bocor
rumahmatahari: sampe jam 2 anak2 malam tertahan dibaruga
rumahmatahari: sabar kak... sabar....
rumahmatahari: di blog sudah
rumahmatahari: cuman 5 kata
rumahmatahari: Unhas Bersatu Tak bisa dikalahkan
rumahmatahari: kan bukanji kita kak.... betul2 di, ulah secuil orang
rumahmatahari: kl yg inagurasi ituji yg kutau...
rumahmatahari: nd dtgka
rumahmatahari: kl yang kemarin...
rumahmatahari: jam 3, ekonomi msh sibuk kuliah
rumahmatahari: tiba2 dr arah baruga ada suara tembakaan
rumahmatahari: trus orang2 sospol lari2.... ke ekonomi
rumahmatahari: di lantai dua
rumahmatahari: teknik menyerang sekitar jam 1.30 dari 2 arah...
rumahmatahari: FIS 2 sm yang lewat belakang baruga
rumahmatahari: malah sempat di lapangan hitam putih
rumahmatahari: pokonya kita dpt serangan dadakan
rumahmatahari: sy liat yang waktu dilapangan
rumahmatahari: tegang... ale saking tegangnya, nd tau dr mana de dapat kayu. sembaarangmi de cabut
rumahmatahari: kuliah di bubarkan langsung....
rumahmatahari: malah sampai hari besok, nd ada aktivitas di ekonomi
rumahmatahari: banyak anak2 yang luka2 kak... ale tangannya robek, aswar pelipisnya lecet. banyak pokoknya..... tapi, luka ringanji
rumahmatahari: gr2 perang batu di Zona Perang
rumahmatahari: apanya kak?
rumahmatahari: rata2 yg di ekonomi jam itu anak anak 05 sm 06
rumahmatahari: kuliah ke-3
rumahmatahari: sebagian pulang, sebagian yg rada2 penasaran ikut tongi ke baruga liat org baku lempar2
rumahmatahari: tp baek2ji smua
rumahmatahari: iyye,,, sy malah lututku berat sekali
rumahmatahari: nd bisa mi ku angkat
rumahmatahari: yang seru toh kak.... komputer sm isi himpunan diangkut dulu
rumahmatahari: karena pengalaman antek pernah bakar himpunannya llawannya
rumahmatahari: tempatnya anak2. krn jam 7 malam kmaren ternyata masih datangki lagi....
rumahmatahari: so SC LK2 ngungsi ke pondokan untuk rapat
rumahmatahari: hehehhehe.....
rumahmatahari: aparat?... satpam?,.... waktu perang justru mamanya dea yg ketengah
rumahmatahari: sm pak idrus
rumahmatahari: militan tawwa, de turun ditengah hujan batu
rumahmatahari: ada... sy nda tau kpn datangnya. tp kl sy tanya anak2, yg di daerah perang... ada polisi?... jawabannya, samaji bd polisi india dg indonesia. datang kl beresmi
rumahmatahari: nd ngertika juga....
bluishy_gal: sedihkuuuu....
*nda tau kenapa ucapan-ucapanku nda muncul di YM nya (hanya awal dan akhir), mungkin karena saya menggunakan YM web. sudah berapa kali di cek di history, tp nda ada. Jadi maaf jika bingung membacanya..
27 February, 2008
pesan
sobat sejati:
"setahun yg lalu, pd tgl bgini eni lg ngurus wisuda bsm ocha 'n sultra...wkt cpt brlalu yaa..."
one of my lovely bro:
"my UNO, wish me yaa. Naskah sdh hrs naik cetak jumat ini, bwt mngejar jadwal pameran di jkrta. Doakan sy yaaa..! :)"
youngest buddy:
“untuk hujan.. dan semua rindu yg masih menghidupkan.. Alhamdulillah..”
seorang adik nun jauh di Makassar:
Dari seorang teman: Hikmah Hari Ini: "Karenanya merenunglah sejenak saja. Merenung tentang iman dan sabar. Tentang cinta dan ridhaNYA. Setelah itu, merenunglah tentang orangtua, istri, suami dan anak-anak kita. Bahkan merenunglah tentang surga dan neraka. Atau merenunglah tentang apa saja dan siapa saja yang bisa menggairahkan iman kita. Merenunglah sejenak lalu rasakan manisnya iman."
dia yang bijaksana, selalu mengiriku dengan doa:
"Ass..wr..wb..apa kabar sultra? Wah smoga baik2 dan makin sehat meski hujan tak brhenti2..(yg lg trjebak hujan). Wslam"
semua cukup kujawab: jazaakillah khair, terima kasih, tengkiuu...luv 'n miss you all /(^_^)\
26 February 2008
15 February, 2008
tak berjodoh
jam menunjukkan hampir pukul setengah enam, pikirku sekitar 15 menit lagi saya akan sampai. ternyata meleset 5 menit, lalu turunlah saya di halte busway Bundaran HI. Berjalan kaki lagi menuju Grand Indonesia ditemani gerimis, lumayan lah cocok jadi bintang iklan Anlene atau duta anti osteoporosis. Tibalah saya di depan gerbang Grand Indonesia yang masih bertemakan Tahun Baru China dengan nuansa merahnya. Masuk ke dalam seperti biasa, pak satpam memeriksa . Duduklah saya di kursi kayu yang ditempatkan persis di depan pintu masuk. Mata say mulai mencari-cari sosok deen, saya masih ingat dengan jilbab biru muda dan rok hitamnya. Jadi itu yang saya jadikan patokan mencarinya, pikir-pikir yang berjilbab di sekitar pandangan mata tak ada. Hanya saya sendiri, di sebelah seorang ibu memakai kemeja merah bata yang juga duduk dengan memainkan telepon genggam.
tak lama kemudian saya memutuskan menelpon k' rara, menanyakan mengenai janjian pertemuan pesta blogger di Grand Indonesia dulu dimana. Saya ingat sewaktu chat tadi siang deen sempat bilang di tempatnya pesta blogger dulu kumpul. K' rara bilang di Starbucks atau Blitz megaplex, lalu saya meyakinkan apakah bukan Starbucks yang di Plaza Indonesia. Ternyata Starbucks nya berada tepat di sebelah kanan, berjalan kira-kira 15-20 meter. sepertinya sudah adzan maghrib, karena sudah jam enam lewat dua puluh. Untuk lebih meyakinkan lagi pergilah saya ke lantai 8 menuju Blitz Megaplex. Mencari-cari sekitar 15 menit, tak lama sebuah deringan telepon menyambut. Seorang teman di Makassar menelpon lalu ngajak ngobrol, dengan perasaan tak enak saya meminta maaf untuk menghentikan dulu pembicaraan. Saya bilang saya sedang janjian dengan seseorang dan lagi berkeliling mencari-cari orang itu. Akhirnya teman itu mengerti, katanya nanti malam ingin menelpon kembali.
Dalam hati saya terus bergumam "deen, kamu dimana?", tak lama kemudian saya berinisiatif dulu mencari tempat sholat. Terus terang saya orang yang benar-benar tidak bisa menguasai dan mengingat satu tempat jika baru 2 atau 3 kali, tak cuma itu. Hal ini juga berlaku terkait dengan nama dan orang-orang yang pernah saya temui. Sedihku dengan kebiasaan ini.
Saya mencari satpam dan menanyakan tempat sholat, jam sudah hampir menunjukkan angka 7. selepas magrib, saya pergi sekali lagi ke Blitz. Tapi tak menemukan, sempat melihat seorang perempuan berjilbab sebahu di depan Blitzgamers. Tapi setelah saya dekati bukan, jilbabnya warna pink muda. Akhirnya saya memutuskan turun dan berkeliling sebentar, lalu duduk di kursi kayu di depan Starbucks. Jam setengah 8 saya memutuskan pulang, dan bergumam mungkin kami sedang tidak berjodoh. Di depan Plaza Indonesia saya sempat membeli sebungkus otak-otak untuk dibawa pulang. Menuju halte bundaran HI ke arah Blok M, lalu sempat ke warnet setiba disana [kenapa tidak cari warnet waktu di GI ya?]. Saya cek telepon genggam, ada misscall 3 kali, ada satu pesan. Celakanya saya baru melihatnya :(
percakapan kecil
kau: "tulislah!"
aku: "tapi aku enggan membacakannya"
kau: "baca saja, meski perlahan"
lalu kau bertanya: "kau persembahkan untuk siapa?"
kujawab dengan mata berbinar: "untuk Engkau yang setia menyisipkan bahagia di hati setiap makhluk"
03 January, 2008
Resolusi 2008
inilah ketiga resolusi itu:
Berguru dan menjadi guru
Tak henti-hentinya aku mengirim pesan untuk bocah-bocah yang menempa keras hidupnya dan terbatas oleh tak adanya kesempatan.
Masih kalimat yang sama, ”tunggulah aku memeluk hati kalian, bukan hanya sekedar di alam pikiran, karena kebahagiaan patut diperjuangkan. Di tawa dan sentuhan kalian lah, itu bisa kudapatkan”.
mulai serius menulis buku non fiksi yang tlah lama direncanakan melalui guru yang paling berharga, kehidupan dan orang-orang yang menjalaninya.
Menyempurnakan dien
Sempurna!!!
Rindu, mimpi, jarak dan harap berpadu
Sederhana!!!
DIA, engkau, aku, bertemu
Tinggal menunggu waktu untuk menyatu
Melanjutkan studi [berharap lolos beasiswa]
Kata Rasul, ada tiga hal nanti yang menjadi penolong manusia di kehidupan selanjutnya (jika Anda cuma menganggap itu isu global, tak apa-apa):
1. anak yang sholeh
hal ini belum tentu saya dapatkan, tingkat kepastiannya sangat rendah, jadi sulit bagi saya. apalagi saya juga bukan tipikal anak yang sholehah (mama 'n bapak maafkan ni).
2. amal baik
saya tak bakal masuk kategori ini, sulit karena saya baru belajar menjadi orang baik.
3. ilmu yang bermanfaat
meski, saya masih keledai yang selalu jatuh di lubang yang sama berkali-kali dan selalu mengeluh. tapi saya ingin berbagi melalui apa yang pernah saya dapatkan. mudah-mudahan tak sekedar mengejar eksistensi diri.
selebihnya adalah resolusi sepanjang hayat yang hanya bisa ditulis dalam satu kalimat atau juga mungkin paragraf, kedengarannya klise dan sering diucapkan sejak saya masih sekolah dasar dulu dengan sedikit gubahan kata karena sekarang sudah sok dewasa:
"saya ingin menjadi orang yang baik dan berguna bagi sesama manusia, agar bisa menemui Tuhan dengan tersenyum"
Mohon doanya...
Mohon dukungannya...ketik sultra_resolusi2008, kirim ke amin.. /(^_^)\
hehehe... cheers!!!
30 December, 2007
puisi Cak Nun
Tuhanku,
aku berguru kepadaMu
ajarilah bagaimana mendengarkan batu
membaca suara
menggenggam angin yang bisu
Tuhanku,
kedunguan memberiku pengertian
buta mata menganugerahi penglihatan
kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan
jika aku tahu
terasa betapa tak tahu
waktu melihat
betapa penuh rahasia gelap
yang dikandung cahaya
Tuhanku, aku berguru kepadaMu
tak tidur di kereta waktu
lebur dalam ruang
karena setiap satu mengandung seribu
berguru kepadaMu
Tuhanku,
kuragukan setiap yang kutemu
kutimba ilmu dari yang paling dungu
20
Tuhanku,
aku berguru kepadaMu
gelap dan terang saling menegaskan
garis batasnya memusnahkan jaraknya
pada pertentangannya memancarkan kesatuannya
[puisi Cak Nun, yg dicomot dr majalah Horison edisi Desember 2007]
Kupersembahkan untuk mereka yang dalam perjalanannya mencari, tanpa harus menyakiti yang lain, tanpa harus menganggap diri yang paling benar, tanpa harus menegasikan apapun, sebab masih ada cara yang lebih baik untuk saling mengerti dan memahami.
berdialog lah, meski dengan dirimu sendiri.
19 December, 2007
apa yang kau baca akhir-akhir ini?
bukan..bukan buku Milan Kundera yang baru saja diterjemahkan, lalu kutuntaskan beberapa malam saja. dengan isinya yang imajinatif dan erotis seperti yang pernah dipaparkan Freud dalam Psikoanalisanya.
bukan..bukan deadline pekerjaan yang mulai membosankan untuk dijamah tapi tetap saja membuatku penasaran untuk menyelesaikan.
bukan pula huruf-huruf yang membentuk kalimat di jalan-jalan, kendaraan dan segala materi yang tampak.
aku yakin kau masih ingat bahwa segala sesuatu yang absurd selalu saja membuatku senang membacanya, berkelakar dengannya tentang kehidupan di alam pikiran, yaa yang kubaca akhir-akhir ini kamu hidupku. membaca realitas dalam dimensi absurditas (bahasa apa pula ini!)
sketsamu selalu nampak dalam samar. aku mendengar dan kau terus menerus mengakar dalam jiwaku seperti pohon beringin yang tegak berdiri meneduh dengan daun-daunnya yang satu per satu luluh makin menyuburkan tanah pijakannya.
ada dia yang memanggil-manggilku untuk melengkapi rusuknya yang masih rapuh. tapi aku belum mampu menguasai bahasa-bahasa kalbu, lalu tenggelam lah aku dalam keliru.
kau aku masih saja dalam ketakutan yang sama, bualan-bualan tentang dunia yang tampak belum waktunya bersahabat dengan kita. tapi tenang saja, aku masih tetap menyukai kesederhanaanmu, mengagumi kerendah hatianmu, tentu saja mencintai tawamu mendengarkan gurauan dan kekonyolanku dengan segala kesabaranmu.
04 December, 2007
27 November, 2007
memaknai ketulusan
untuk melepas beban dan penat menjadi sebuah kenikmatan
belajar dari pak Kalim, satpam kantor yang tak kenal lelah menunggu saya lembur bekerja, terkadang hingga tengah malam untuk menuntaskan deadline
tak sekali pun marah, senyumnya tetap saja terpancar
mendengarkan ceritanya kala saya menunggu taksi pesanan menjemput
lalu menemani dan mengangkat bawaan saya masuk
berulang-ulang, tak pernah mau diberi uang
padahal saya tahu, orang-orang seperti dia dalam kondisi butuh
untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya
pagi-pagi dia sudah menyapa dan memberikan semangat
katanya untuk ukuran orang baru saya cukup rajin
tapi saya belajar dari Bapak,
untuk setiap keluh dan peluh atas rutinitas yang sedang saya jalani
adalah tak pantas
seperti menemukan kembali sosok seorang bapak
begitu bijaksana dan bersahaja
terima kasih...
22 November, 2007
perlombaan iblis
Al-Aqqad menulis apa yang dinamainya Musabaqat Iblis (Perlombaan Iblis), di mana dilakukan perlombaan tentang siapa yang paling hebat dalam kedurhakaan dan paling mampu menyesatkan dan menggoda. Tujuh setan bersaing. Setan kesombongan, setan iri hati, setan putus asa, setan penyesalan, setan asmara, setan kemalasan, dan setan riya’ (bermuka dua).
Yang memenangkan perlombaan adalah setan yang disebut terakhir ini, dan ketika hadiahnya akan diserahkan dia menampakkan keengganan menerima, padahal sebenarnya dia ingin, karena memang demikian pembawaannya. Iblis berucap kepadanya dengan kata-kata bersayap yang maknanya lebih kurang:
Engkau menolaknya!!!
Tanpa dikau, jelas keburukan dunia.
Tetapi denganmu ia nampak penuh pesona.
Ambillah dunia, dan jadikan kediamanmu.
Dengan demikian, terbuka pintu-pintu neraka.
Diambil dari: Yang Ringan Jenaka-M.Quraish Shihab,2007 (Lentera Hati).
19 November, 2007
tangisan itu

kenapa akhir-akhir ini rasanya berat untuk menjadi kekasih-Mu?
mengapa rindu-Mu tak cukup menghampiri,
padahal sudah berulang kali kau peringati
cukup penuhi hati ini dengan cinta-Mu
tanpa perlu mengingatkanku
sketsa wajah,
kata-kata,
suara,
dia...
[*apakah tangisku tak bisa menghentikannya yang datang dan pergi sesuka hati?]
16 November, 2007
03 November, 2007
sebab waktu tak kan terulang
seperti sebuah quotes yang pernah kuingat di suatu film:
semakin besar kemampuan dan kekuasaan seseorang semakin besar pula tanggung jawab yang dia emban.
kemarin malam sepulang lembur menjelang tidur pikiran dan ruh ku lapar, kuambil buku tafsir Al mishbah untuk membaca lagi makna sebuah surat cinta-Nya. Surat ke-94, yang selalu membuat bangkit ketika pikiran sedang dipenuhi lingkaran pertanyaan, keluhan dan tak jarang cacian (upss!!!) ujung-ujungnya tangisan. setiap keputusan adalah resiko yang harus dipertanggungjawabkan, betapapun sulitnya itu akan ada jalan. cukup keyakinan yang menuntun tuk menemukan jawaban-jawaban.
saya manusia yang selalu lupa, selalu berkeluh kesah, selalu banyak bertanya dan mempertanyakan diri. lalu buku-buku dan jurnal menjadi sasaran, sambil mendengarkan nyanyian Tuhan yang cukup lama kutinggalkan. betapa rindunya saya dengan kelapangan waktu. yaa..kelapangan waktu untuk lebih banyak bercengkrama dengan orang-orang yang disayangi, monolog di depan cermin dan memperhatikan betapa tak pantasnya diri untuk secuil pun memiliki kesombongan, membaca buku-buku yang ditelantarkan di kamar, bermain dengan anak-anak yang tak tersentuh pendidikan dan merasakan betapa kerasnya hidup untuk diperjuangkan, mengunjungi sahabat dan kawan-kawan lama dan mengatakan kepada mereka betapa rindunya saya, bersenda gurau dan sesekali mencaci sesama (hahaha...).
sejak ditinggalkan manajer saya ke luar negeri 3 bulan yang lalu, hidup saya banyak berubah, banyak pelajaran yang didapatkan terutama tentang tanggung jawab dan betapa berharganya waktu meskipun itu hanya sedetik.saya sulit berkutat dengan hal-hal yang saya senangi. dengan pekerjaan yang menyita waktu dan cukup banyak menguras pikiran, setiba di rumah terkapar dihampiri lelah, bahkan menulis catatan harian pun rasanya enggan. di rumah disambut *kurcaci-kurcaci yang tiba-tiba melompat ke badan minta di gendong dan ditemani main, lalu bertanya:
"tante nini marah ya sama sofi?kok gak mau main lagi?pergi terus."
yang kecil pun ikut-ikutan:
"iya, tante nini kok mau bobo sih..kan ada aisah, tante nini kan aisah, soleha"
lalu mengucapkan dua nama itu berulang-ulang, saya kebingungan. ternyata itu nama-nama pemeran utama di sinetron (hahahaha...), karena kedua nama itu mengenakan jilbab seperti halnya saya.
saya hanya menjawab dengan tawa. keluguan mereka cukup mengobati penat dari rutinitas sebelumnya, lalu kucium mereka dan kembali tertawa lepas mendengarkan celotehan-celotehan mereka.
dan dua minggu lalu, saya membuat seorang sahabat menangis terharu.
kepada Galuh Pangestu selalu ada waktu untuk sahabat sepertimu, dengan pelukan dan bahuku yang mungil ini.
seperti yang kubilang "sebab waktu nggak akan terulang".
ketika kau mempertanyakan
"de', lu kan habis lembur dan besok pagi hari kerja, kok jadi nginep di rumah kan jauh dari kantor?"
(besoknya saya tak sempat mengantar kepergiannya ke bandara, kembali ke KBRI Kuala Lumpur)
dan saya semakin yakin, bahwa waktu tak kan terulang. jadi, nikmati kebersamaan dengan orang-orang yang disayangi selagi ada kesempatan.
salam..
awal november dua ribu tujuh
31 October, 2007
books conversation [dialog aku-buku]
pic from www.photobucket.com
They call out my name,
I reach out to read them all,
Falling flat on my face with shame,
The timeless classics Don Quixote would say,
The newfound glories, Clancy and James Frey,
The poets like Poe and Dickinson
Ms. Emily I feel your pain
But I haven't the time To read every non-rhyme
and clear the shelves of Humor,
Mystery, History, Architecture
and all the good books call out my name
"Bend my sheath." "Break my spine."
"Get familiar with me."
I haven't the time.
Damn all the good books!
this poem i take from goodreads
wrote by Gabe from Colorado,
it remind me how all my books
where still i put on the box
hasn't finish yet read by me.
when i come home after get
hectic from office 'n trap in a traffic of Jakarta,
i just can see them wrapped on boxes in my room.
just take it for a second saw them crying and said
"why you don't ever read me for a while?"
or
"touch me and see, you'll get anything where
you never get it before"
or
"soeltra, i think you like exploring anytime
anywhere, so why don't you read me?
come..'n being my friend again.
i miss some of conversation with you"
and remember my old poem i ever wrote:
buku buku di kamarku menjerit
setelah sebelumnya selalu menyapa
dengan senyum dan tawa di sampulnya
tapi aku selalu saja lupa
ya..aku selalu saja lupa
bahwa mereka adalah penyempurna jiwa,
juga pengobat rasa
lalu kusampaikan pembenaran kepada mereka
bacaan yang paling penting adalah bacaan hidup
buku yang paling berharga adalah hidup itu sendiri
dan mereka menjawab
dan kau menemui hidup hidup yang lain pada kami
bukan hanya hidupmu
hidup yang lebih lengkap
yang mungkin tak pernah kau alami
atau kau dapatkan dimana pun
buku buku menutup percakapan dengan kalimat
"maukah kau tetap menjadi temanku?"
and finally!
last monday i move to a place nearby office,
rent a room 'n pick up some of my books.
on my new place i just spend 20 minutes on the way
to go to the office 'n no traffic!
the result: for this two days
i've been chatting with two of them.
how grateful my life, how lucky me!
time for waiting traffic for almost 4 hours,
i can substitute it for reading
on my new room...my new room,
small but i just like in heaven.
09 October, 2007
tentang maaf
Hanya orang besar yang punya sifat memaafkan (Mahatma Gandhi)
Memaafkan merupakan jalan terpendek menuju Tuhan (Gerald Jampolsky)
Apalagi yang bisa aku katakan, semua sudah dimaafkan. Apalagi yang perlu aku bilang, semua orang sudah riang (Kurt Cobain-All Apologize)
Tapi benar-benar memaafkan itu sungguh sulit; dan memang hanya orang besar yang mampu melakukannya dengan sempurna. Saya sendiri sering kepayahan memaafkan segala hal; bukan semata-mata memaafkan dan kemudian berdamai dengan dunia, tapi juga berdamai dengan diri sendiri, menenteramkan gejolak yang masih liar karena terpaksa harus memaafkan. Bila sudah begitu, saya sering malu karena jadi tahu persis betapa memaafkan yang berbuah kebahagiaan itu sangat jarang. (Anwar Holid - editor buku)
terinspirasi dari Republika kolom SELISIK, 9 Oktober 2007
aku sudah memaafkanmu, sungguh!
(meskipun terkesan tidak ikhlas karena diucapkan tapi untuk menyampaikan sesuatu, kata cukuplah perlu, bukan?)




