31 October, 2007

books conversation [dialog aku-buku]

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
pic from www.photobucket.com


Damn all the good books,
They call out my name,
I reach out to read them all,
Falling flat on my face with shame,
The timeless classics Don Quixote would say,
The newfound glories, Clancy and James Frey,
The poets like Poe and Dickinson
Ms. Emily I feel your pain
But I haven't the time To read every non-rhyme
and clear the shelves of Humor,
Mystery, History, Architecture
and all the good books call out my name
"Bend my sheath." "Break my spine."
"Get familiar with me."
I haven't the time.
Damn all the good books!

this poem i take from goodreads
wrote by Gabe from Colorado,
it remind me how all my books
where still i put on the box
hasn't finish yet read by me.
when i come home after get
hectic from office 'n trap in a traffic of Jakarta,
i just can see them wrapped on boxes in my room.
just take it for a second saw them crying and said
"why you don't ever read me for a while?"
or
"touch me and see, you'll get anything where
you never get it before"
or
"soeltra, i think you like exploring anytime
anywhere, so why don't you read me?
come..'n being my friend again.
i miss some of conversation with you"

and remember my old poem i ever wrote:

buku buku di kamarku menjerit
setelah sebelumnya selalu menyapa
dengan senyum dan tawa di sampulnya
tapi aku selalu saja lupa

ya..aku selalu saja lupa
bahwa mereka adalah penyempurna jiwa,
juga pengobat rasa

lalu kusampaikan pembenaran kepada mereka
bacaan yang paling penting adalah bacaan hidup
buku yang paling berharga adalah hidup itu sendiri

dan mereka menjawab
dan kau menemui hidup hidup yang lain pada kami
bukan hanya hidupmu
hidup yang lebih lengkap
yang mungkin tak pernah kau alami
atau kau dapatkan dimana pun

buku buku menutup percakapan dengan kalimat
"maukah kau tetap menjadi temanku?"

and finally!
last monday i move to a place nearby office,
rent a room 'n pick up some of my books.
on my new place i just spend 20 minutes on the way
to go to the office 'n no traffic!
the result: for this two days
i've been chatting with two of them.
how grateful my life, how lucky me!
time for waiting traffic for almost 4 hours,
i can substitute it for reading
on my new room...my new room,
small but i just like in heaven.



17 October, 2007

HAPPY IDUL FITRI 1428 H

Visual Poetry - ImageChef.com

Taqabbbalallahu minna wa minkum...Taqabbal yaa karim...
Mohon maaf lahir bathin

-soeltra-

09 October, 2007

sendiri

pada dasarnya manusia sendiri,
di awal sendiri,
di akhir juga sendiri,
hanya dalam perjalanan saja selalu ada yang datang dan pergi menemani,
makanya hidup jadi lebih berarti
(balasan untuk teman yg mengomentari tulisan saya, eh..malah dibuat postingan tersendiri)

terimakasih...
untuk orang-orang yang pernah, selalu dan akan menemani perjalanan saya
hidup memang jadi betul-betul berarti dengan kehadiran kalian

saling mendoakan yaa padukaa..

tentang maaf

Islam lebih mengedepankan 'memaafkan' daripada 'minta maaf.' Memaafkan itu muncul dari kesadaran diri, dari dalam, sedangkan minta maaf lebih karena terpaksa. Jadi sebelum orang lain minta maaf, seseorang idealnya harus lebih memaafkan (Quraish Shihab)

Hanya orang besar yang punya sifat memaafkan (Mahatma Gandhi)

Memaafkan merupakan jalan terpendek menuju Tuhan (Gerald Jampolsky)

Apalagi yang bisa aku katakan, semua sudah dimaafkan. Apalagi yang perlu aku bilang, semua orang sudah riang (Kurt Cobain-All Apologize)

Tapi benar-benar memaafkan itu sungguh sulit; dan memang hanya orang besar yang mampu melakukannya dengan sempurna. Saya sendiri sering kepayahan memaafkan segala hal; bukan semata-mata memaafkan dan kemudian berdamai dengan dunia, tapi juga berdamai dengan diri sendiri, menenteramkan gejolak yang masih liar karena terpaksa harus memaafkan. Bila sudah begitu, saya sering malu karena jadi tahu persis betapa memaafkan yang berbuah kebahagiaan itu sangat jarang. (Anwar Holid - editor buku)

terinspirasi dari Republika kolom SELISIK, 9 Oktober 2007

aku sudah memaafkanmu, sungguh!
(meskipun terkesan tidak ikhlas karena diucapkan tapi untuk menyampaikan sesuatu, kata cukuplah perlu, bukan?)

08 October, 2007

diskriminasi

Orang bisa secara fanatik membaktikan hidupnya pada politik atau keyakinan agama atau segala bentuk dogma maupun tujuan lain karena dogma atau tujuan tersebut meragukan
(Robert T Pirsig - Zen and the Art of Motorcycle Maintenance)

kenapa mesti ada diskriminasi, jika semuanya dapat diperlakukan sesuai dengan haknya, tidak mendzalimi namun menghargai.

dan saya pun teringat postingan milik seorang teman

Allah, berilah saya kekuatan, termasuk menghormati yang tidak berpuasa... (kotakjimpe.blogdrive.com)

hari ini teman sekantor yang lebih tepat atasan saya : menangis dan berbagi resah, bukan karena setumpuk pekerjaan yang harus dia lakoni atau penyakit ketidakstabilan mood karena pms (pre mestruation syndrome) (kalau dua penyakit ini lebih condong ke saya,hehe...). Usut punya usut dari ceritanya dia merasa menjadi korban diskriminasi dan harga dirinya sebagai seorang manusia (tepatnya individu) telah diusik.

begini ceritanya, tanggal 2 kemarin kantor saya membagikan THR yang dikirim ke rekening karyawan langsung. Nah! Atasan saya tadi bertanya kepada saya untuk memastikan apakah saya sudah dikirimkan? Otomatis, karena sebelumnya saya memang sudah cek ke Muamalat dan terheran-heran kok ada uang masuk lagi (ternyata dari kantor), saya bilang sudah. Dia pun menimpali dengan senyum. Hari ini, saya ditemani atasan saya untuk lunch (maaf, secara saya sedang tidak puasa karena masalah wanita,hehe..), padahal dia sudah membawa jatah makan siangnya sendiri dari rumah untuk makan diam-diam di dalam ruangan dengan alasan menghormati orang-orang berpuasa.

pergilah kami berdua ke tempat bakmi ayam kesukaan kami yang lokasinya tak jauh dari kantor dan pas berseberangan dengan pasar rumput. kami memesan mi ayam bakso 2, dia minum fanta rasa anggur, dan saya memilih jus jambu kelutuk dengan alasan ingin menambah kadar Hb (hemoglobin).

saya mengawali pembicaraan dengan pertanyaan
"mba tadi dipanggil ibu (maksudnya direktur eksekutif kantor saya) kenapa?ada masalah?"
biasanya dia yang selalu bertanya hal senada ke saya mengenai pekerjaan-pekerjaan saya.

"nggak de', cuma membahas yang waktu hari jum'at", jawabnya.

"emang hari jum'at ada apaan?aku kan ke UI depok, sorenya baru balik ke kantor", tanyaku lagi.

"itu..masalah THR dan ruangan baru kita nanti", sergahnya.

"ooo...eh iya, katanya mba dapat THR juga ya?kok begitu, jadi bulan Desember mba gimana?ruangan barunya kenapa?", tanyaku lagi bertubi-tubi.

"nah itu dia de', saya merasa tersinggung dengan alasan kenapa saya diberikan THR sekarang, bukan karena jumlah nominalnya, tapi saya merasa tidak dihargai sesuai dengan yang seharusnya. Saya merayakan hari raya Desember nanti, tapi kenapa dengan alasan penyeragaman dan memudahkan bagian keuangan. Pimpinan kantor bertindak tanpa meminta konfirmasi terlebih dahulu, ini hal yang riskan, kenapa tidak dibicarakan terlebih dahulu ke saya. Apa saya tidak punya hak untuk berpendapat?Apa mereka tidak mau menerima perbedaan?saya tahu, saya lain sendiri disana. Tapi apa tak ada alasan lain yang lebih bijaksana?", jawabnya dengan nada bergetar dan sedikit melinangkan air mata.

lalu saya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan hanya bisa menimpali,
"mba tenang aja, maksud mereka mungkin bukan begitu.biarpun mba nggak seagama sama sultra, toh selama ini semuanya baik-baik saja kan.mungkin memang seperti itu alasannya, meskipun sultra juga kalau jadi mba akan merasakan hal yang sama. tapi, mba tenang aja deh..yang penting kan saling menghargai", jawab saya dengan senyum.

"tapi nggak bisa terus begitu de', kamu masih ingat kan masalah sebelumnya, untuk kedua kalinya terulang dan terkait dengan diskriminasi. cuma karena saya non islam, maaf sultra..", jawabnya lagi.

"mba, mba W tahu? (manager saya yang sedang bertugas di Ausiie). coba mba diskusiin ke dia, bagaimanapun dia kan atasan kita dan mungkin dia yang bisa jadi penghubung antara mba dengan mereka" tanyaku.

"mba W sudah tahu, dan dia marah langsung mengirimkan e-mail dan sms ke mereka bernada ini bla...bla...bla...(panjang, pokoknya terkait ketidaksukaan mengenai hal yang mengarah ke diskriminasi itu)", sergahnya.

"ya sudah, biar itu diselesaikan mba W. toh! mba kan sudah bicara dengan mereka, meski lagi kata maaf terlontar. siapkan saja dada yang lapang, lagipula saya, mba W dan mba D nggak pernah melihat mba dari agama mba. Kita kan partner kerja, jadi harus kompak. Mba udah lihat iklan coca cola yang baru? sultra suka banget. begitulah seharusnya kita", timpalku dengan semangat dan senyum.

"iklan yang mana?hampir tadi pagi memutuskan untuk tidak ke kantor, tapi pas mikir lagi tentang kerjaan juga kerjaanmu, jadi membatalkan niat itu.", kilahnya.

"lhoo...kalo mba nggak ada, ntar nggak ada yang ngeliatin sultra ngomong sendiri 'n tiba-tiba nangis pas lagi ngerjain kerjaan bejibun itu dong?iklannya bagus, ntar mba lihat aja",

"huss! kamu itu, iya nanti ta' lihat. thanks de' "

kenapa keyakinan yang kita miliki harus menyakiti orang lain, jika masih ada cara yang lebih bijak untuk menunjukkan betapa indahnya keyakinan yang kita pegang. terkadang ada hal-hal yang sebenarnya lebih substantif daripada sekedar berbicara dosa secara tekstual. bukankah menyakiti orang lain termasuk dosa?terlebih sulit untuk disembuhkan, apalagi karena kata yang salah bicara.

merujuk pada agama yang saya yakini, terdapat ayat (Q.S Al Hujurat ayat 13) yang menyatakan bahwa kita dilahirkan bersuku-suku, berbangsa-bangsa, dan dengan perbedaan lainnya dengan tujuan agar saling kenal mengenal dan mengasihi.

dan bukankah Islam itu rahmatan lil 'alamiin? rahmat bagi seluruh umat, siapapun itu.
Orang bisa saja soleh secara pribadi, tapi akhlaknya cacat jika kesolehan sosialnya tak ada.
sungguh! sudah terlalu banyak pelajaran bahwa "satu diskriminasi akan melahirkan diskriminasi lainnya". ini juga yang dialami saudara-saudara kita di Perancis, Palestina, Inggris, dan belahan bumi lainnya. Bukankah lebih enak jika yang muncul sikkap positif, saling mengerti dan menghargai. bukan dendam ataupun pembalasan.

Allah...maafkan hamba dan mereka yang tidak menyadari kedzalimannya atas nama perbedaan yang muncul. Cukuplah Rasulullah dan para ta'biin menjadi tauladan bahwa akhlak yang baik diutamakan.

03 October, 2007

belajar pada daun

Pada sebuah siang yang menyengat di bulan September, saya bertemu kembali dengan kawan lama. Seorang perempuan yang terluka jiwanya justru oleh suaminya sendiri.

Ya, dulu saya pernah bercerita tentang perempuan ini. Dialah Rini, perempuan muda yang menjadi istri seorang lelaki pengidap HIV. Celakanya, Rini baru tahu, justru setahun setelah keduanya menikah.

Kala itu saya mencoba memberinya ketabahan. Lalu saya bilang, mengapa kita tak belajar kepada daun yang tetap bermanfaat bagi kehidupan kendati ia telah rontok ke tanah.

"Daun?" tanya Rini saat itu.
"Ya, daun...," jawab saya.
"Daun..., akulah itu daun yang kini dimakan ulat, meranggas pelan-pelan sebelum akhirnya mengelinting kering," Rini putus asa.
"Semua orang juga akan kering mengelinting."
"Tapi tidak seperti aku."
"Ah, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok."
"Maksudmu?"
"Kenapa kita memikirkan sesuatu yang sungguh mati bukan urusan kita."
"Lantas?"
"Menjadi daun itulah maksudku. Tak soal dimakan ulat atau diserang hama lainnya, toh ketika rontok, lantas jadi humus, ia bermanfaat bagi tanah yang menumbuhkan kehidupan bagi tanaman."

Saat bertemu kembali di sebuah tempat di Jakarta Selatan, Rini pun membuka percakapan,

"Kini aku telah menjelma jadi daun."
"Daun?"
Saya yang membuat analogi, saya pula yang kemudian lupa.
"Iya, saya telah menjadi daun, seperti yang mas pernah usulkan kepada saya ketika saya putus asa bertahun-tahun lalu," ujar Rini.
"Hmm ya, daun apa yang Rini pilih?"
"Daun apa saja, sepanjang itu bermanfaat bagi kehidupan."

Saya yang belum ngeh dengan arah perbincangan di siang itu, mencoba pura-pura faham dengan materi perbincangan. Saya pun dengan gagah berani mengurai tentang daun.

"Ya..ya daun, daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis," kata saya sok tahu.
"Oh..begitu ya Mas?" Rini melongo.
"O iya..., daun juga organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia."
"Trus mas?..."
"Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang."
"O...."
"Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri, misalnya pada kaktus, dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air. Ngerti kamu Rin?"
"Nggak."
"Kurang jelas saya menerangkannya?"
"Bukan..., bukan itu maksud saya. Saya tak butuh penjelasan tentang daun. Saya hanya mengambil filosofinya."
"Lo.., daun ada filosofinya toh?"
"Gimana sih mas ini, bukannya Mas yang menguraikan filosofi daun saat saya putus asa dulu?"
"Astaga..., ya... sekarang saya ingat. Waktu itu kita berada di lereng Gunung Salak, bukan?"
"Ya."
"Di rumah yang di sekelilingnya ditumbuhi tanaman obat?"
"Betul."
"Bagaimana rasanya menjadi daun?"
"Tenang, damai..."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena tahu bahwa daun memberi kehidupan buat pohonan, karena daun tahu suatu saat pasti akan rontok, dan daun juga tahu ketika telah jatuh ke tanah dirinya bisa bermanfaat buat kehidupan lainnya."

Kami diam sejenak. Saya tak lagi merasai matahari yang garang, jawaban Rini itulah yang membuat hati saya jadi sejuk.

"Apa kegiatanmu sekarang, Rin?"
"Bekerja bersama kawan-kawan yang peduli dengan para korban narkoba."
"Trus kamu jadi apa di sana?"
"Jadi daun."
"E...maksudku, apa tugasmu di tempatmu bekerja?"
"Ya persis seperti daun itulah. Kami mencari peluang dengan memberi proposal kepada para penyandang dana yang mau membantu kegiatan kami. Persis seperti daun yang menyerap sinar matahari sebagai energi kehidupan. Kalau sudah dapat, kami pun membuat berbagai program. Ada program pendampingan, membeli obat-obatan, mencari rujukan rumah sakit, dan seterusnya."
"Syukurlah."
"Ya, saya juga bersyukur pernah ketemu Mas dulu. Kalau tidak..."
"Kalau tidak kenapa?"
"Saya mungkin tidak memilih jadi daun, tapi jadi petani daun ganja."
"Hus, ngawur."
"Becanda, Mas."
"Eh, omong-omong..., bagaimana kondisi suamimu?"
"Dia bekerjasama dengan saya juga sebagai tim pendamping korban narkoba."
"Kamu sendiri kondisi kesehatanmu bagaimana sekarang?"
"Saya sudah tak memikirkan diri saya lagi. Mungkin lantaran saya tak memikirkan diri saya sendiri yang justru membuat saya jadi lebih kuat."

Ah, inilah rupanya salah satu rahasia para pekerja sosial macam Rini. Mereka kuat secara fisik dan mental justru lantaran lebih banyak memikirkan orang lain daripada memikirkan dirinya. Bukankah para Nabi, para Wali, dan juga para orang suci juga berbuat hal sama, mereka lebih banyak memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri?

"Rin.."
"Ya, Mas."
"Kamu hebat."
"Ah, biasa aja kok Mas. Saya hanya selembar daun aja."

Tak terasa, matahari telah ngeloyor ke barat. Lampu-lampu di jalan sudah mulai menyala. Saya pun pamit kepada Rini.

"Sampai ketemu ya Rin."
"Ok, Mas."
"Jaga dirimu bak-baik."
"Ya. Mas. O iya Mas, nanti, suatu ketika, saat daun ini menjadi kuning dan gugur ke bumi, kenanglah selalu aku ya Mas."

Saya hanya menjawab dengan senyuman getir. Tak terasa, air di mata saya menggenang. Saya cuma kuasa mengangguk saja, sembari berucap dalam hati.
"Pasti Rin, pasti."

Cerita menarik ini saya dapat dari seorang teman, semoga bermanfaat.
Sumbernya dari sini :
jodhi@kompas.com
Bisa juga dilihat disini :
Belajar pada Daun
http://kompas.com/ver1/Negeriku/0710/01/052006.htm

01 October, 2007

k.a.m.u

kamu :

satu!
seperti anak merajuk sewaktu tak dihiraukan ibu

dua!
seperti perempuan menunduk sewaktu didera malu

tiga!
seperti seorang tua membungkuk ditelan waktu

terakhir...!
seperti buku yang kubaca sebagai penyempurna jiwa

perempuan - lelaki, menulis

perempuan menulis dengan cinta,
ditemani air mata yang kian lama mengiring

lelaki menulis dengan logika,
diiringi peluh yang kian lama mengering

perempuan, lelaki, cinta, logika, air mata dan peluh mengerut tanpa keluh,
di hadapan-NYA semua bersimpuh

bertemu kenangan

pelan-pelan aku meratakan jalanan yang digenangi kenangan
tetap mengendap dalam ingatan meski tak lagi menyakitkan

sesekali berjumpa dalam senyuman

ada yang pernah katakan,
berkariblah dengan kenangan, dan kau tak kan mungkin merasa kehilangan atau kesepian
sebab dia mengada, pada jiwa yang dipenuhi cinta

28 Sept 2007
di angkot menjelang buka

28 September, 2007

Orang-orang dari masa lalu muncul satu per satu

Kenapa saya katakan september ceria? karena lebih banyak hal-hal sederhana tapi membuat kebahagiaan, berkah Ramadhan. Meski di bulan ini pula lagi saya kehilangan seseorang yang lagi darahnya mengalir di tubuh saya. Sakit sih iya, tapi selalu saja muncul pikiran bahwa nikmat-Nya lebih melimpah yang membuat diri enggan larut.hehehe...Seorang ade' pernah nyeletuk "enak jadi kita, gampang bangkit. mauka iya kalo kaya kita susah suka sesuatu/seseorang tapi gampang melupakan, biasanya kan terbalik". dan saya cuma bisa tersenyum, lalu menimpali "semuanya tergantung dari kita mau bagaimana". Seperti kata Aa Gym "masalah selalu ada, bahkan dapat muncul bertubi-tubi, tergantung diri bagaimana mau menyikapinya".
Untuk kedua ade' saya, Yani dan Syam, "be a fighter babe..", "yani, jangan pernah takut untuk mengambil sikap, sesekali memang perlu jika memang sudah tak bisa lagi dikompromikan".

Ini daftar orang-orang yang membuat saya bersyukur pernah dipertemukan mereka (huuuu...mulai mellow deh..) :

Ayu Khaerani,
sosok perempuan bercadar dan berjilbab besar, teman sekamar waktu ngekost pertama kali di Makassar, umur kami tertaut 2 tahun. Dia bukan sekedar teman, saya mengagumi beberapa sifatnya : rajin, sangat pembersih, berkarakter tapi begitu lembut, tegas, tegar, cerdas dan dewasa. Sungguh sangat jarang kutemui perempuan seperti dia. Dulu katanya dia seorang gadis tomboi yang digemari banyak lelaki, ketika mulai bermetamorfosa dia memutuskan berkawan sepi dengan keyakinannya sampai akhirnya menikah dengan lelaki baik dan gagah (hehehe..). Dari dia saya banyak belajar mengenai jilbab. Jum'at lalu tiba-tiba dia menelponku, dan bilang "ade'..kusayang, kenapa nda pernah kasih kabar", lalu kuceritakan bahwa si pencopet di bulan Juni itu membuatku setiap hari makin menjadi korban "fakir miskol", "sms-sms terlantar", dan "telepon-telepon nyasar". Lalu terdengarlah tawa lepasnya, katanya saya masih lucu seperti dulu. Dia mengundangku untuk datang ke Siwa (salah satu daerah di Sul-Sel) untuk menghadiri pernikahan kakaknya, juga memintaku menjenguk dirinya dan anaknya. Masih saja sering terulang dari kalimatnya "seandainya kk punya saudara laki-laki lagi yang belum menikah, mauka jodohkanko supaya jadi satu keluargaki..". Dan saya cuma bisa tersenyum haru.

Aline,
Teman seperjuangan dulu sewaktu masih menjadi mahasiswa, dia mahasiswi FK Undip wajahnya ke-indoan dan ada sedikit raut timur tengah. Pokoknya cantik untuk ukuran seorang akhwat. Kami bertemu di suatu forum. Kongres nasional mahasiswa muslim di Masjid Salman, Bandung. Suka berdiskusi dan tertawa renyah, beberapa malam lalu, saya menerima sms darinya. Awalnya saya tidak tahu siapa yang mengirimkan sms penyemangat dan unik itu. Tepat pukul tarif murah Simpati, teng! jam 11 malam saya menelpon nomor itu, setelah sebelumnya dia tak membalas sms penasaranku. "Assalamualaikum..hallo, ini siapa yaa.., tadi sms saya?" tanyaku. Di seberang sana dia menjawab dengan tawa kecil "wa'alaikumsalam sultraa, ini aline, maaf yaah tadinya mau ngerjain, tapi kamu udah memancing saya ketawa", jawabnya. Lho...memangnya saya badut,hehehe...selanjutnya kami berbincang meski hanya sebentar saya senang sekali.. /(^_^)\

Imelda Filayati,
Salah satu teman SMA yang rumahnya selalu jadi tempat berkumpul anak-anak secara rumahnya yang rimbun diteduhi pohon jambu air dan pohon mangga (masih adakah?) tepat berlokasi di belakang sekolahan kami. Gadis periang yang tak kalah ributnya dengan temannya ini, hehehe... Minggu lalu kami bertemu secara tidak sengaja di halte Rawasari, sama-sama sedang menunggu bus yang ke arah Priuk. Malam itu kebetulan saya diantar oleh teman sekantor yang arah mobilnya melewati jalur bus yang sesuai arah pulang, hari itu gerimis. Jadi sudah kepastian kalau Jakarta semakin macet. Sambil menunggu dengan sedikit cemas karena sudah jam 9 malam dan hanya ada 4 orang yang menunggu di halte itu termasuk saya. Akhirnya untuk memastikan apakah P-8 melintas disitu saya bertanya dengan seorang perempuan yang berdiri di depan. "mba' mau nanya, P-8 lewat sini nggak ya?", tanyaku. Dan jawabannya mengejutkan "nggak mba, lewat atas" (tangannya sambil menunjuk ke arah jalan tol tepat berada di atas kami). Saya berusaha menenangkan diri dan tak putus-putus berharap semoga saya dipertemukan dengan orang yang saya kenal, pasalnya penerangan di halte itu sangat remang, menuju gelap malah iya (hiiii...dasar phyctophobia!). Dua orang naik ke angkot, termasuk perempuan tempat saya bertanya. Tinggallah saya berdua dengan seorang perempuan berjilbab coklat, berkemeja putih dan celana pipa coklat. Tiba-tiba dia agak teriak heboh "sultra!", selanjutnya saya bingung. Sekali lagi dia agak berteriak "sultra! ini sultra kan?, ini gue melda". Seketika saya ikut heboh "ya ampuuuuuuuuunnn.....MELDA! ini elo?". bagaimana nggak heboh dua orang mantan gadis tomboi (istilahnya doongg..) pas ketemu sudah sama-sama pakai jilbab. Lalu terjadilah hal-hal yang sedikit dramatis, apalagi kalau bukan berpelukan, cipika cipiki, agak-agak terharu, ketawa-ketawa, pokoknya bercampur aduk dan berulang-ulang lah... setelah hampir 6 tahun lost contact.


Halimah,
Seorang perempuan tangguh, itu kesan pertama ketika bertemu dia di salah satu acara nasional mahasiswa akuntansi se-Indonesia di Surabaya. Pada tahun itu perempuan yang ikut di acara itu hanya bisa dihitung jari, dan dia salah satu orang yang cukup vokal di forum, seminar, dan diskusi panel yang diadakan. Usut punya usut, ternyata diantara kumpulan mahasiswa akuntansi itu dia seorang ketua umum himpunan di Universitas Mulawarman. Selepas kegiatan itu hanya awal-awal saja kami sering berkomunikasi, mendiskusikan beberapa hal, diapun beberapa kali berkunjung ke himpunan kampusku untuk mendiskusikan beberapa isu seputar akuntansi dan keorganisasian. Semenjak nomor hape saya yang mentari hilang dan diganti simpati kamipun ikut kehilangan kontak. Dan akhirnya bertemu lagi baru-baru ini di friendster yuhuuuuu...senangnya /(^_^)\. Sekarang dia sudah agak berubah, dulu masih terlihat tomboi dan jadilah perempuan yang lebih feminin. Tapi saya yakin dia masih seorang pemikir yang andal terbukti dari e-mail nya yang beberapa kali masuk hanya saja sekarang lebih sempurna dengan balutan hijab syar'i dan tutur kata (suatu hal yang masih sulit berubah di diriku).

Saya selalu merasa setiap hari istimewa, karena selalu saja ditemui dengan hal-hal sederhana orang-orang bersahaja yang membuat kebahagiaan datang.

Jkt 19 Sept 2007

sederhana namun menuju sempurna, kali ini aku sedikit sepakat denganmu kawan /(^_^)\ (hayyooo..yang ngerasahihihi...)

Dan ini adalah daftar orang-orang terkasih yang bertambah usianya dibulan ini :

Sofie (4 Sept, ponakan yang bikin gemes)
Ririn (18 Sept, sahabat sewaktu SMA sampai sekarang)
K' Tuti (22 Sept, my lovely sista' yang sudah seperti ibu ke-2)
Ali Sastro (25 Sept, sahabat karib yang masih saja lucu)
Acank (27 Sept, sahabat yang baik hati)

Tak ada ucapan "selamat" untuk semakin berkurangnya umur, bukan?
Semoga DIA senantiasa melimpahkan kalian rahmat, hidayah dan hikmah.
amin...

Jkt 28 Sept 2007

menikam diam

Diam-diam dia menikam atas nama rindu

Dari ujung bahu hingga menembus kalbu

Seperti kepala yang kau sandarkan

Pada dermaga yang sempat hancur oleh sebuah kapal

Lalu kau bangun kembali, dengan bentuk mungil dan lebih rapih

Seperti diriku


Mungkin memang kita selaiknya diam-diam saling menikam

Dengan sesuatu yang sederhana tak bernama namun terasa sempurna

Tapi aku selalu saja ingin mendefinisikannya

26 September, 2007

cuma iseng..


You are The High Priestess


Science, Wisdom, Knowledge, Education.


The High Priestess is the card of knowledge, instinctual, supernatural, secret knowledge. She holds scrolls of arcane information that she might, or might not reveal to you. The moon crown on her head as well as the crescent by her foot indicates her willingness to illuminate what you otherwise might not see, reveal the secrets you need to know. The High Priestess is also associated with the moon however and can also indicate change or fluxuation, particularily when it comes to your moods.


What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.



iseng-iseng, nyoba-nyoba dari tempatnya ocha 'n k' jimpe /(^_^)\

24 September, 2007

faith..

aku masih menyimpan keyakinan bahwa pelaut ulung bukanlah lahir dari ombak yang kecil

sebesar apapun ombak itu,
aku harus bisa menghadapinya,
menaklukannya dengan ketenangan yang kumiliki
dengan kompas yang selama ini menuntunku

sebab hidup terlalu berharga untuk selalu diisi dengan tangis
salah seorang kawan pernah berucap "wanita besi adalah wanita yang selalu membagi kebahagiaan dan keceriaan"
iya..dan tangisan hanyalah selingan
ketika manusia ditimpa cobaan
agar hidup layaknya sebuah nyanyian

salah seorang abang pernah berkata "mutiara yang indah berasal dari kerang yang hidupnya ditempa, dan dia menjadikan segala sesuatunya menyempurna dirinya, dan kamu termasuk mutiara itu.."

dan aku manusia biasa yang mencoba memahami pelajaran-pelajaran berharga dalam hidup, Tuhan..

"u'll never walk alone..."

pencari-Mu

21 September, 2007

berbuka puisi

aku ingin berbuka puisi
ditemani lantunan orang-orang mengaji
dari kitab suci yang bermakna tinggi

juga denganmu, inspirasi..

untukmu: anonim

kau dan aku berbalas puisi
ketika lekuk-lekuk tubuh terlelap

kau dan aku berbagi mimpi
pada sujud-sujud yang sunyi

kau dan aku bersahutan menyulam takdir
lewat kata-kata yang diucapkan menanti Dia hadir
menjawab tangis kedua manusia yang mengais
menemukan belahannya selepas perpisahan di syurga dahulu

kelak terkabul
bukan lewat gombalan ataupun pesan

ps : aku tahu kau selalu menyembunyikan itu, demi kebaikanku. thanks! /(^_^)\

15 September, 2007

40 hari setelah sepeninggalanmu

kemarin adalah genap 40 hari selepas kematianmu, sehari setelah kakak pergi aku semakin rajin membuat catatan tentangnya meski hanya dalam ingatan dan sangat jarang kutuliskan. entah, aku ini seorang yang sangat pelupa, tapi penyakitku yang satu itu tidak berlaku kalau mengenai orang-orang yang benar-benar kukasihi, orang-orang terdekat yang selama ini datang dan pergi tanpa pamrih menyulam kasih.

catatan-catatan:

hari pertama, kedua, ketiga, dan ketujuh
bendera putih kecil ditancapkan, menandakan di rumah tersebut sedang berselimut duka. sedangkan menurutku bukan itu, ini menandakan manusia kembali ke awal ketika dia lahir masih dalam keadaan putih, diiringi tangis, dan belajar dari apapun disekelilingnya. ketika lahir manusia belajar dan dalam kematiannya manusia yang lain belajar, jadi aku selalu mengambil kesimpulan dalam hidupnya manusia semestinya harus belajar. orang-orang berdatangan membawa ucapan dan raut empati, menunjukkan betapa kehilangan dan ketidakyakinan akan maut yang merenggut. lalu aku hanya bisa menanggapi dalam pikiranku sendiri, mengapa tidak yakin dengan kepastian akan kematian?. ada lagi satu pertanyaanku, kenapa ada selamatan tertentu untuk beberapa hitungan hari pasca kematian seseorang?cuma satu hikmah yang aku tangkap dari hal ini : menumbuhkan silaturahmi antara sesama, apalagi di kota besar yang aku diami saat ini, individualisme sudah menempati posisi teratas.namun pada hari kematian seseorang para kerabat, tetangga, sahabat, dan tak jarang orang-orang yang tak pernah kita lihat sebelumnya muncul dengan berbagai upaya untuk menegarkan jiwa keluarga yang ditinggalkan.

hari kedelapan
kak, rasanya baru kemarin nini bercerita tentang hal-hal yang lucu semasa kecil dulu, tentang lagu-lagu yang sering kita nyanyikan dimana kakak yang memainkan gitarnya, lalu ibu menegur karena lagu-lagu itu sangat asing di telinganya. terakhir sebelum kakak kembali dirawat pernah menanyakan apakah aku sudah menerima salah satu dari beberapa tawaran kerja yang telah berhasil kulewati tesnya. dan kakak selalu bingung dengan segala kebingunganku, dengan segala pertimbanganku.

hari ke empatpuluh
kak, tadi malam aku memimpikanmu datang ke rumah dengan wajah berseri seperti sekedar ingin mengatakan bahwa kau tak dilanda sepi juga baik-baik saja.aku senang jika memang begitu, beberapa hari ini Ramadhan akan tiba. Meskipun kau tak sempat menikmatinya, kukirimkan saja sebagian berkah dan suasananya lewat Al Fatihah dan doa.

"kak, semoga kami yang masih hidup di dunia dapat menghargai dan memaknai hidup itu sendiri serta yakin bahwa ada kehidupan kekal disana yang akan kami tuju"

(Jkt, 09 Sept 2007)

katarsis

duhai Sang Maha Menghendaki
kemarin aku melihat banyak jejak kaki
tubuh-tubuh tertindih puing terkapar mati
di bulan-Mu yang suci

apalagi ini?

(gumamku..)

"qadarullah wa maasyaa a fa'ala"

smoga musibah memang benar-benar selalu menyimpan hikmah dan barokah

12 September, 2007

coming soon..

Assalamu'alaikum..

Marhaban yaa Ramadhan
Sultra mo ngucapin:
Met Menjalankan Ibadah Puasa yaa..
Mohon Maaf Kalo sultra Pernah bikin
salah yg sengaja maupun tdk disengaja,
insyaAllah sultra sdh maapin yg pd punya
salah,hehe.. (ngerasa)

At least, smoga Ramadhan slalu membawa
berkah dan hikmah.amin...

Cheers.. dan BERSEMANGAT!!! /(^_^)\

Wassalam..

09 September, 2007

pesan berharga

"Apabila kamu tidak dapat memberikan kebaikan kepada orang lain dengan kekayaanmu, berilah mereka kebaikan dengan wajahmu yang berseri-seri, disertai akhlak yang baik."

Thanks yaa Rasulullah, sudah menitipkan pesan berharga ini kepada kami manusia-manusia yang teramat kecil dan kerdil di hadapan-Nya untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan dari hal-hal sederhana

Aku ingin menemuimu, suatu waktu, menjadi salah seorang yang berada dalam barisanmu.
Semoga!




.: gadis kecil /(^_^)\ :.

*foto dari www.blogthings.com

sebelum cahaya

Ku teringat hati yang bertabur mimpi

Kemana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri

Kuatkanlah hati cinta


*Ingatkan engkau kepada

Embun pagi bersahaja

Yang menemanimu, sebelum cahaya


Ingatkan engkau kepada

Angin yang berhembus mesra

Yang kan membelaimu cinta


Kekuatan hati yang berpegang janji

Genggamlah tanganku cinta

Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri

Temani hatimu cinta


*Ingatkan engkau kepada

Embun pagi bersahaja

Yang menemanimu, sebelum cahaya


Ingatkan engkau kepada

Angin yang berhembus mesra

Yang kan membelaimu cinta


Ku teringat hati yang bertabur mimpi

Kemana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri

Kuatkanlah hati cinta


*Ingatkan engkau kepada

Embun pagi bersahaja

Yang menemanimu, sebelum cahaya


Ingatkan engkau kepada

Angin yang berhembus mesra

Yang kan membelaimu cinta


Kan membelaimu cinta...

(Letto-sebelum cahaya)

edede...noe itu seperti bapaknya saja membuat saya slalu jatuh cinta dengan karya-karyanya /(^_^)\ suka sekali nih laguuu...

*p.s : foto dari www.blogthings.com